Ad Unit (Iklan) BIG

Buku gusdur, islmamku islam anda Islam kita PDF

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد

Segala puji bagi Allah yang memiliki segala pengetahuan, yang mengajarkan pengetahuan kepada manusia dengan qolam (pena)

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi Muhammad Saw. yang bersabda:
 مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّين
Artinya: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah (mendapat) kebaikan, niscaya Allah akan memberikannya pemahaman dalam masalah agama.” (HR. Bukhari).

Nama buku: islamku Islam anda Islam kita
Pengarang: Abdurrahman Wahid
Bahasa: Indonesia
Halaman: 451


Bahwa “Tuhan tidak perlu dibela”, itu sudah dinyata- kan oleh Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam  suatu tulisannya yang kemudian menjadi judul  salah satu buku kumpulan karangannya yang diterbitkan beberapa tahun la­­lu. Tapi, bagaimana dengan umat-Nya atau manusia pada umum­nya?  “Merekalah yang sebenarnya justru perlu dibela” ketika  me­­­re­­ka menuai ancaman atau mengalami ketertindasan dalam  se­lu­ruh aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial, budaya  dan agama. 

Konsekuensi dari pembelaan, adalah kritik, dan terkadang terpaksa harus mengecam, jika sudah melewati ambang  toleransi. “Pembelaan”, itulah kata kunci dalam esai-esai kumpulan tulisan Abdurrahman Wahid kali ini. Maka, bisa dikatakan,  esai-esai ini be­rangkat dari perspektif korban, dalam hampir semua kasus yang dibahas. 

Wahid tidak pandang bulu, tidak membedakan agama, etnis, warna kulit, posisi sosial, agama apapun untuk mela­kukannya. Bah­kan, Wahid tidak ragu untuk mengorbankan image sendi­ri—sesuatu yang seringkali menjadi barang mahal bagi mereka  yang merasa sebagai po­litisi terkemuka— untuk membela korban  yang memang perlu dibela. Maka orang sering terkecoh bahwa  seolah Wahid sedang mencari muka ketika harus mengorbankan  dirinya sendiri. Munculnya tuduhan sebagai ketua ketoprak, klenik, neo-PKI, dibaptis masuk Kristen, kafir, murtad, agen Zionis  Yahudi dan sebagainya, tidak akan menjadi beban bagi dirinya  ketika harus membela korban.

Bahkan jika dia sendiri yang jadi korban, tidak akan ragu juga untuk memperjuangkannya, seperti kasus diskriminasi yang dilakukan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) dalam pemilihan pre­siden 2004. Hanya untuk tidak meloloskan dia menjadi calon pre­siden, KPU mereka­yasa sebuah aturan yang aneh bin diskri­mi­­natif dengan me­lang­gar UUD 45 dan perundangan-undangan yang ada, yang di masa depan yang panjang, mungkin baru akan terasa bahwa hal itu akan menjadi problem besar bangsa Indo­ne­­sia untuk menegakkan demokrasi dan kedaulatan hukum. Mes­­ki­pun ia selama ini selalu menjadi pembela orang lain, ia ti­dak ambil pusing –ketika dirinya menjadi korban, tak ada yang membantu atau membelanya.

Wahid dalam esai-esainya ini melakukan pembelaan mulai dari Inul Daratista yang dikeroyok oleh para seniman terkemuka di Jakarta dengan alasan agama, Ulil Abshar Abdalla aktivis Islam Liberal yang divonis hukuman mati juga dengan alasan agama Islam oleh para ula­ma terkemuka, sampai ancaman untuk menutup pesantren Al-Muk­min di Ngruki, Solo oleh polisi, meskipun ia tetap mengkritik pandangan Abu Bakar Ba'asyir dan pengikutnya. 

Wahid juga melakukan pembelaan terhadap rakyat Irak dan Saddam Hussein dalam berhadapan dengan kejahatann Presiden Ame­rika Serikat George W. Bush Jr., rakyat Palestina yang terus menerus men­jadi bulan-bulanan Israel, serta rakyat tertindas di negara-negara berkembang atas dominasi kapitalis dunia dalam globalisasi. Dan tentu saja, rakyat kecil yang menjadi korban kebi­jak­an pemerintah sendiri. Mereka adalah rakyat Aceh yang ter-paksa memilih bergabung dengan GAM, sebagian rakyat Pa­pua yang terpaksa bergabung dengan OPM, serta rakyat Ambon yang menjadi korban rekayasa kekerasan. Begitu juga pemeluk agama minoritas, selalu menjadi subjek pembelaannya.

Satu hal yang dihindari Wahid -yang memproklamirkan diri se­ba­gai pengikut setia Mahatma Gandhi- adalah kekerasan, termasuk yang dilakukan dari pihak korban. Hanya kalau orang Islam diusir dari rumahnya yang sah dengan semena-mena, kata Wahid menurut hukum Islam, mereka baru boleh melakukan ke-kerasan. 

Di samping itu, Wahid juga menghindari satu sudut pan-dang saja dalam melihat banyak hal, termasuk agama. Judul utama buku ini memperlihatkan bahwa pluralitas diutamakan termasuk dalam melihat Islam: “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”. Tak ada satu Islam, Islam adalah multi wajah, wajah manusiawi. 

Pluralitas dalam melihat Islam dan kehidupan, dengan ber-san­dar pada etika dan spiritualitas, itulah yang diusulkan Wahid, termasuk untuk mengelola dunia yang terus bergerak ke arah globalisasi ini: untuk perdamaian abadi dan saling menghormati antar bangsa dan antar manusia. 

The Wahid Institute dengan senang hati mempersembahkan esai-esai ini yang ditulis Wahid pasca lengser dari kursi kepresi­denan. Wahid Institute berhutang budi kepada banyak pihak, ter­utama kepada harian dan majalah yang tulisan-tulisannya dimuat dalam kumpulan ini; juga kepada mereka yang secara tekun mencatat, menyimpan dan mem­perbaiki jika perlu, atas semua naskah ini. Juga kepada Abdur­rah­man Wahid sendiri yang dengan rela memberikan naskah ini untuk diterbitkan. Ter­akhir rasa terima kasih yang besar disampaikan kepa­da Dr. M. Syafi’i Anwar Direktur ICIP (International Center for Islam and Pluralism), yang dalam kesibukannya menyelesaikan disertasi doktornya, masih menyempatkan diri untuk membaca, menseleksi dan mem­berikan saran perbaikan serta mensistematisasi dan memberi kata pengantar buku ini.

Terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang tidak bisa disebut satu per satu. Kami hanya bisa mengucapkan se­mo­ga amal ibadah bapak ibu sekalian diterima oleh Allah Swt. Amiiin.

Selamat membaca,

Jakarta, Agustus 2006

the WAHID Institute

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter